Tinta yang Tersisa

Empat tahun telah berlalu, sebuah pertemanan sudah kian merenggang. Mereka sibuk dengan kehidupan sesungguhnya tanpa saling mengabari satu sama lain. 

Ara yang sedang sibuk berkuliah kembali teringat tentang kenangan manis di masa SMA. Dimana saat dirinya membolos mata pelajaran yang tidak ia sukai bersama dua sahabatnya, makan di saat jam pelajaran serta keseruan lainnya yang kini menjadi sebuah goresan kenangan.

'Kejadian' itu membuat pertemanan mereka hancur, lebur dan perlahan sirna. Setelah lulus SMA, mereka benar-benar lost contact. Kesalahpahaman yang terjadi membuat segala kenangan yang terukir menjadi tak berarti. 

"Mereka apa kabar ya?" monolog Ara di kantin kampus.

Di lain tempat, Aruan dan Arlando sedang tertawa bersama mengingat setiap foto polaroid yang sedang mereka amati. 

"Muka lo kayak bocil" tawa Arlando semakin menggelegar.

Sedangkan Aruan yang menjadi bahan tertawanya menampilkan ekspresi yang ditekuk. Tanpa sengaja arah netranya tertuju pada foto polaroid yang berisi tiga orang dengan wajah penuh noda es krim. Terukir sebuah senyuman yang membuatnya rindu dengan momen itu.

"Lo kangen ya? Sama gue juga, dia apa kabar ya?" ucap Arlando sendu mengingat kesalahpahaman yang membuat mereka terpecah.

"Kita kumpul lagi gimana?" pertanyaan Aruan membuat Arlando tersenyum tipis dan mengangguk.

•••

Seminggu belakangan ini Ara seperti tak semangat melakukan aktivitas kuliahnya. Padahal biasanya, ia paling ambis bahkan tergolong sebagai mahasiswi aktif di berbagai organisasi. 

"Ra, lo nanti ikut rapat kan?" pertanyaan dari Dinda tak digubris oleh Ara.

Tak mendapat respon apapun membuat Dinda geram sendiri, terlebih saat diperhatikan seminggu belakangan ini Ara seperti nampak murung tak seperti biasanya. Dinda kemudian teringat dengan pesan dari sepupunya kemarin untuk segera disampaikan.

"Araaa!" panggilnya tepat di telinga Ara yang membuat Ara tersadar dari lamunannya.

"Apa?" 

"Ada yang mau ketemu lo pulang ngampus nanti" pertanyaan Dinda membuat alis Ara berkerut.

"Siapa?" tanyanya penasaran.

"Liat aja nanti, jangan lupa ditemuin lho. Gue balik dulu bye" 

Setelah kepergian Dinda, Ara semakin penasaran siapa yang akan menemuinya? Apakah dosen atau mahasiswa ilmu komunikasi yang ingin mewawancarai dirinya?

15.00 wib

Rasa penasaran yang sedari tadi menggebu kini akan segera menguar. Ara yang sudah tidak ada jadwal kuliah, segera menunggu orang tersebut di sebuah taman depan fakultasnya. 

Sekitar 10 menit ia menunggu namun, orang yang ia tunggu masih belum menunjukkan tanda-tanda batang hidungnya.

Di lain sudut, Arlando terus meyakinkan Aruan bahwa keputusan ini sudah benar. Aruan yang terus melihat Ara di sebuah taman, tersenyum getir. Sahabat yang hanya ia lihat di saluran televisi dan media sosial kini berada di hadapannya. 

Wajahnya tak berubah, hanya lebih dewasa dari jaman SMA dulu.

"Ayo Aru, keburu Ara pergi" ajak Arlando sambil menggandeng tangan sahabatnya.

Setibanya mereka di hadapan Ara, mereka berdua terkejut. Ara yang semula duduk menjadi berdiri melihat kehadiran manusia yang sangat ia rindu.

Setetes air mata mengalir dari netra hitam Ara begitupun dengan Aruan. 

"A-Aru?" panggilnya lalu dengan gerakan cepat Ara memeluk erat tubuh Aruan.

Terdengar tangisan kebahagiaan membuat Aruan ikut meneteskan air matanya. Aruan membalas pelukan Ara tak kalah erat.

"Ma-maaf, dulu aku egois" permintaan maaf dari Ara diangguki oleh Aruan.

"Aku juga minta maaf, a-aku nggak bermaksud buat merebut Leondra dari kamu" 

Cukup lama mereka menikmati rasa rindu ini dalam keheningan. Setelah di rasa cukup, mereka melepaskan pelukan dan menghapus jejak air mata masing-masing.

"Masa lalu biar berlalu, jadikan pelajaran agar tidak terulang kembali" Arlando yang sedari tadi diam mengamati dua sahabatnya kini memberikan sebuah nasehat yang diangguki oleh mereka.

"Berarti, sekarang kita sahabatan lagi nih?" goda Arlando dengan senyum manisnya.

Ara dan Aruan tertawa kecil lalu mengangguk "yes, we are friends forever" mereka kembali berpelukan seperti Teletubbies dan tertawa bersama.

•• jadikanlah masa lalu sebagai sebuah pembelajaran memperbaiki diri tanpa meninggalkan sebuah rasa penyesalan yang mendalam ••


Komentar

Postingan Populer